03 Januari 2026 17:04:38
Oleh : Firman Yusi, SP Anggota Komisi II DPRD Kalsel Sekretaris Fraksi PKS Ketua Bidang Advokasi, Kebijakan Publik, Petani, Peternak dan Nelayan DPW PKS Kalsel Kehadiran ratusan ribu jamaah di Martapura, Kalimantan Selatan, setiap 5 Rajab merupakan fenomena spiritual yang luar biasa. Kerumunan manusia yang memadati kompleks makam Guru Sekumpul bukan sekadar angka statistik; ia adalah bukti nyata kekuatan magnet spiritual, kultural, dan sosial yang dimiliki tanah Banjar. Lebih menarik lagi, data bahwa banyak jamaah, terutama dari luar Kalsel, memilih untuk bertahan beberapa hari di Banjarbaru, Banjarmasin, dan Martapura pasca-acara, adalah "golden data" yang tidak boleh diabaikan. Ini bukan sekadar kunjungan, tapi "religious staycation" yang menyimpan potensi ekonomi besar. Dengan tanpa mengecilkan makna religius dari momen 5 Rajab, momentum ini harus juga dilihat sebagai peluang strategis yang jauh lebih besar. Gelombang manusia ini tidak hanya datang untuk berziarah dan berdoa, tetapi juga membawa kebutuhan akan pengalaman, pengetahuan, dan produk yang selaras dengan nilai-nilai Islami. Oleh karena itu, sudah saatnya momentum 5 Rajab dielevasi menjadi sebuah "Festival Budaya dan Ekonomi Islami Kalimantan Selatan" yang berkelanjutan. Berikut adalah kerangka gagasan untuk menyelenggarakan event pendukung yang dapat menggairahkan UMKM dan Pariwisata : Islamic Cultural Festival (Seminggu Sebelum/Sesudah 5 Rajab) Pameran Seni dan Budaya Islam Banjar yang menampilkan kaligrafi, manuskrip kuno, seni pahat ukir, hingga fashion bernuansa Islami dengan sentuhan motif Sasirangan dan tenun tradisional. Festival ini bisa menjadi platform bagi seniman dan perajin lokal. Atau juga ini bisa menjadi platform bagi seniman dan perajin lokal, dan Pagelaran Budaya yang menampilkan musik hadrah, qasidah modern, teater religi, dan pembacaan syair Banjar bernapas Islami, menarik minat semua kalangan. Expo Produk Halal & UMKM Lokal Pameran produk-produk halal unggulan Kalsel, mulai dari makanan khas (amplang, dodol, sate itik), kopi khas, produk kesehatan herbal (jamu Banjar), hingga kerajinan tangan (tapis, anyaman purun). Targetkan sebagai oleh-oleh wajib bagi jamaah. Demikian juga dengan Bazaar Kuliner Halal Nusantara yang menyediakan berbagai panganan dari seluruh Indonesia dengan standar halal yang ketat, menjawab kebutuhan jamaah yang tinggal lebih lama. Bahkan kalau dimungkinkan juga dapat pelatihan singkat membuat kerajinan atau masakan khas Banjar dapat menjadi pengalaman wisata yang menarik (edutourism). Pengembangan Paket Wisata Religi Terintegrasi "Spiritual & Cultural Journey": Menciptakan paket wisata 3-5 hari yang tidak hanya ke Sekumpul, tetapi juga mengunjungi masjid bersejarah (Masjid Sultan Suriansyah), situs budaya (Komplek Pemakaman Sultan Banjar), pusat pemotongan permata Martapura, dan sungai-sungai di Martapura dan Banjarmasin. Manfaat yang didapat antara lain adalah ; bagi UMKM: Pasar yang langsung menyasar ratusan ribu pembeli potensial. Branding produk lokal menguat dan jaringan pemasaran meluas. Sedang bagi sektor pariwisata adalah meningkatknya angka kunjungan wisatawan (wisman dan wisnus), lama tinggal (length of stay), dan pengeluaran mereka di Kalsel. Citra Kalsel sebagai destinasi wisata religi dan budaya semakin kokoh. Untuk masyarakat Kalsel sendiri dalam jangka panjang maupun pendek dapat menciptakan lapangan kerja, peningkatan pendapatan keluarga, dan pelestarian budaya lokal dalam kemasan yang relevan. Sementara bagi jamaah yang datang merupakan pengalaman beribadah yang lebih bermakna dilengkapi dengan pengalaman budaya, kuliner, dan belanja produk halal yang memuaskan. Gelombang jamaah 5 Rajab adalah anugerah sosial-ekonomi tahunan yang harus dikelola dengan visioner. Dengan mentransformasikannya dari event sekali datang menjadi "Festival Bulan Rajab" yang meriah dan bernilai tambah tinggi, kita tidak hanya menghormati ritual keagamaan, tetapi juga memberdayakan ekonomi kerakyatan dan mempromosikan wajah Islam yang ramah, berkemajuan, dan berbudaya asli Indonesia (Banjar). Mari jadikan Martapura bukan hanya sebagai episentrum spiritual, tetapi juga sebagai episentrum kebangkitan ekonomi kreatif berbasis nilai-nilai Islami.